• Home
    • University
    • StudentSite
    • BAAK
    • Website
    Seberapa Akurat Aplikasi Ramalan Cuaca di Smartphone?

    Petitih “sedia payung sebelum hujan” bisa jadi sudah tak relevan lagi atau sebaliknya meski di era serba digital saat ini. Kemunculan aplikasi-aplikasi prakiraan cuaca dalam genggaman ponsel pintar atau smartphone menampilkan segala hal soal proyeksi cuaca harian. 

    Pada toko aplikasi seperti Google Play maupun App Store ada banyak aplikasi prakiraan cuaca yang tersedia, antara lain Weather, AccuWeather, Weather Underground, hingga Info BMKG milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia. Namanya memang beda-beda, tapi fungsi aplikasi-aplikasi itu kurang lebih sama untuk memprediksi cuaca.

    Secara umum, aplikasi-aplikasi prakiraan cuaca tersebut bersumber dari basis data yang hampir serupa. Mengutip The New York Times, di Amerika Serikat, tempat sebagian besar aplikasi prakiraan cuaca berasal, data dapat diperoleh melalui National Weather Service, NASA, National Oceanic and Atmospheric Organization, satelit, balon udara pengamat cuaca, stasiun pengamatan lokal, serta beragam lokasi sensor lainnya. 

    World Meteorological Organization, organasiasi kumpulan para BMKG sedunia, mengklaim memiliki lebih dari 10.000 titik stasiun pengamatan cuaca di seluruh dunia. Titik-titik tersebut menjadi fondasi utama pengumpulan data bagi pengumpulan informasi soal prakiraan cuaca.

    Data dari berbagai lokasi itu hadir dalam rupa data soal temperatur, titik embun, kumpulan awan, kecepatan dan arah angin, curah hujan, dan beberapa rupa data lainnya.

    Mulyono Rahadi Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG mengatakan bahwa prakiraan cuaca yang diberikan BMKG, termasuk dalam aplikasi Info BMKG hadir dalam rupa-rupa data yang diperoleh dari berbagai lokasi.

    “Pertama tentunya data asli, data pengamatan. BMKG punya 180 kantor BMKG yang ada di daerah, ada orangnya (untuk mengumpulkan data). Kita (juga) kerja sama dengan instansi lain, Pemda misalnya. Kita (juga) punya alat yang dititipkan di pelabuhan, kapal Pelni, rig pelabuhan minyak. Pada saat tertentu datanya masuk ke BMKG kemudian diolah. (BMKG juga memakai) Radar, satelit cuaca untuk daerah yang luas,” terang Mulyono kepada Tirto.

    Meskipun aplikasi-aplikasi tersebut bersumber dari data yang hampir serupa, masing-masing menampilkan prakiraan yang cukup berbeda. Prakiraan daerah Kemang, Jakarta Selatan misalnya, pada Selasa (12/12), aplikasi bernama Weather memprediksi akan terjadi hujan dengan suhu maksimal berada di angka 31 derajat Celsius. 

    Pada Rabu (13/12), aplikasi tersebut memprediksi cuaca berawan dengan suhu maksimal masih berada di angka 31 derajat Celsius. Sedangkan, aplikasi AccuWeather, hasilnya sedikit berbeda. Pada Selasa, ia memperkirakan cuaca hujan dengan suhu maksimal berada di angka 33 derajat celcius. Rabu, AccuWeather memprediksi cuaca hujan dengan suhu maksimal berada di angka 32 derajat celsius. 

    Sementara itu, Info BMKG memprediksi cuaca pada Selasa secara umum berawan dengan kemungkinan hujan disertai petir akan muncul di siang hari. Suhu maksimal dipatok di angka 30 derajat celsius. Pada hari Rabu, Info BMKG memprediksi secara umum cuaca berawan dengan kemungkinan hujan terjadi di siang hari. Suhu maksimal dipatok di angka 28 derajat celsius. Kira-kira seperti itu perbedaan masing-masing aplikasi.

    CNBC pernah mengadakan uji aplikasi prakiraan cuaca. Hasilnya mengatakan bahwa di AS, secara umum, Weather Underground, The Weather Channel memiliki keakuratan rata-rata paling tinggi secara nasional dibandingkan aplikasi lainnya. Namun, bicara konteks lokal, dua nama tersebut masih kalah saing. Di Miami misalnya, CNBC mengatakan bahwa MeteoGroup juara aplikasi untuk memperkirakan cuaca. Sementara di Los Angeles, aplikasi Dark Sky adalah andalan.

    Soal keakuratan yang tak serupa antar aplikasi prakiraan cuaca, Mulyono mengatakan bahwa ada perbedaan antara konteks lokal dan kewilayahan yang luas soal urusan prakiraan cuaca.

    “Jakarta berawan. Jakarta ini sebelah mana, karena ada Utara, Selatan, Barat, Timur. (Jakarta) Pusat pun kecamatan mana? (Kecamatan) Senen pun kelurahan mana? Skala wilayah bisa mempengaruhi tingkat akurasi. (Aplikasi BMKG sendiri memiliki) 80 persen tingkat akurasi wilayah,” katanya.

    Namun, Mulyono menegaskan bahwa untuk pemanfaatan tertentu, akurasi prakiraan 100 persen adalah harga yang tidak bisa ditawar, misalnya dalam dunia penerbangan.

    “Tergantung pemanfaatannya apa. Kalau untuk pesawat harus 100 persen akurat. Tidak boleh kurang dari 100 persen. (Ini bisa terjadi karena) itu untuk satu titik,” tegasnya.

    Secara umum, ketidaksamaan prakiraan yang ditampilkan aplikasi-aplikasi prakiraan cuaca dipengaruhi terutama oleh bagaimana mereka, aplikasi-aplikasi mengolah data. “Prakiraan yang kamu lihat di aplikasi cuaca berbasis pada satu atau kompilasi model informasi. Keakuratan aplikasi cuaca tergantung pada bagaimana tiap organisasi menggunakan data yang mereka dapatkan,” ungkap James West, meteorolog WeatherBug pada Business Insider.

    Seberapa Akurat Aplikasi Ramalan Cuaca di Smartphone?

    Yang paling menentukan dari pengolahan data tersebut ialah algoritma serta interpretasi ahli prakirawan. Beberapa penggagas aplikasi prakiraan cuaca malah membedakannya secara tegas, daripada menggabungkan kedua pendekatan tersebut.

    “Kami mendapat banyak hujatan dari meteorolog yang mengatakan bahwa komputer tidak dapat melakukannya dan kamu selalu membutuhkan manusia di sana untuk menentukan cuaca,” ucap Adam Grossman, pembuat aplikasi bernama Dark Sky. 

    “Tapi manusia sangat payah soal memperkirakan. Ketika prakiraan cuaca akan dilakukan jauh lebih baik menyerahkannya pada komputer,” ucapnya kepada The New York Times.

    “Algoritma membuat beberapa asumsi tentang atmosfer. Algoritma tersebut memberikan perkiraan di mana kondisi atmosfer tertentu akan terjadi,” ucap Chris Maier pada Business Insider.

    Algoritma digunakan terutama karena sangat banyak data yang perlu diolah. AccuWeather, salah satu aplikasi ini memiliki algoritma sendiri bernama RealFeel.

    Keyakinan memperkirakan cuaca pada algoritma tersebut dibantah oleh Dannis Mersereau dalam tulisannya di Gawker. Ia mengatakan bahwa “prakiraan cuaca berkualitas diciptakan oleh para prakirawan terlatih yang menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk melengkapi model data.” 

    Sehingga tak semata pada algoritma. Serta tak bisa dipungkiri bahwa tak ada algoritma yang sempurna dan tiap pengembang aplikasi prakiraan cuaca memiliki algoritmanya sendiri-sendiri. Ini membuat perbedaan hasil prakiraan tak terhindarkan.

    Meskipun dua pendekatan tersebut terasa berbeda, kolaborasi keduanya sesungguhnya bisa saja dilakukan. Ini karena kombinasi keduanya menjadi sama pentingnya.

    “Analisa bareng kita olah untuk menghasilkan gambaran pola angin, konsentrasi kelembaban udara, dan lainnya. Algoritma pasti (juga dipakai). Tidak bisa satu-satu semuanya harus (berbarengan antara algoritma, superkomputer, dan analisa ahli), karena data ada banyak dan tidak hanya dari Indonesia saja. Kita bertukar data dengan internasional,” terang Mulyono.

    Apa yang diungkapkan Mulyono senada dengan keyakinan Kevin Doerr dari Weather Channel. “Kami adalah sebuah organisasi yang mempekerjakan ratusan meteorolog, ditambah dengan ilmu komputasi (algoritma komputer) yang dibutuhkan untuk menghasilkan prakiraan,” ungkapnya.

    Perbedaan hasil yang ditampilkan tiap aplikasi prakiraan cuaca memang tak bisa dicegah. Para pengguna aplikasi sangat mungkin mendapatkan prakiraan yang tidak akurat atau meleset. Bagi yang menyandarkan informasi cuaca dari aplikasi, tentu saja tidak salah. Namun, bagi yang meyakini tetap membawa payung/jas hujan sebelum gerimis datang tentu itu pun sebuah pilihan. 

    https://tirto.id/seberapa-akurat-aplikasi-ramalan-cuaca-di-smartphone-cBxw
    Continue Reading
    Tampilan Windows 10 (Fluent Design) vs macOS, Bagus Mana?
     7 Hal yang Bisa Dilakukan Pengguna Windows, Tapi Cuma Mimpi Bagi Pengguna Mac
    Jika kamu masih ingat, desain awal Windows 10 adalah Modern UI yang membawa konsep flat dengan warna polos nan simple. Kala itu core idea-nya adalah simplicity, performa, dan hemat energi. Desain yang tanpa shadow dan transparansi dianggap lebih hemat resourcePC dibandingkan dengan desain penuh lighting, shadow, efek 3D, terkebih efek blur dan transparan dimana-mana. Maklum, kala itu Windows 10 melanjutkan Windows 8 untuk menjadi sistem operasi perangkat mobile seperti tablet, dimana keawetan baterai menjadi hal yang sangat penting. (Baca: Inilah Kisah Bagaimana Microsoft Mengembangkan Modern UI)
    Tetapi kini konsep desain Microsoft telah berubah total, dari yang flat dan simple di Modern UI, diubah Microsoft dengan Fluent Design System yang lebih memiliki banyak efek blur, transparan, lighting, kesan depth, dan animasi disana-sini. Hasilnya secara tampilan, Windows 10 jadi jauh lebih cantik dan futuristik — meskipun ada harga performa yang harus dibayar oleh pengguna. (Baca: Review Lengkap Windows 10 Fall Creators Update dengan Fluent Design)
    Dengan tampilan yang blur transparan, kini kita bisa membandingkan Windows 10 dengan seteru abadinya — macOS! Seperti yang kamu tahu, macOS juga memiliki tampilan blur transparent. Dan WinPoin cukup penasaran untuk mengetahui apa pendapat kamu tentang tampilan Windows 10 vs macOS.
    Untuk memudahkan kamu membandingkan keduanya, berikut ini adalah tampilan Windows 10 (Fluent Design) vs macOS di berbagai sudut. Tampilan Fluent Design ini diambil dari Windows 10 Fall Creators Update terbaru, sedangkan tampilan macOS diambil dari macOS High Sierra terbaru. Bagus mana menurut kamu?

    Desktop vs Desktop

    Tampilan Desktop Windows 10
    Tampilan Desktop Windows 10
    Tampilan Desktop macOS
    Tampilan Desktop macOS

    Start Menu vs Launchpad

    Tampilan Start Menu Windows 10
    Tampilan Start Menu Windows 10
    Tampilan Launchpad macOS
    Tampilan Launchpad macOS

    Window vs Window

    Tampilan window di Windows 10
    Tampilan window di Windows 10
    Tampilan window di macOS
    Tampilan window di macOS

    Action Center vs Notification Center

    Tampilan Action Center Windows 10
    Tampilan Action Center Windows 10
    Tampilan Notification Center macOS
    Tampilan Notification Center macOS

    Settings vs System Preferences

    Tampilan Settings di Windows 10
    Tampilan Settings di Windows 10
    Tampilan System Preferences di macOS
    Tampilan System Preferences di macOS

    Taskbar vs Top Bar

    Tampilan Taskbar Windows 10
    Tampilan Taskbar Windows 10
    Tampilan Top bar macOS
    Tampilan Top bar macOS

    Taskbar vs Dock

    Tampilan Taskbar Windows 10
    Tampilan Taskbar Windows 10
    Tampilan Dock macOS
    Tampilan Dock macOS

    File Explorer vs Finder

    Tampilan File Explorer Windows 10
    Tampilan File Explorer Windows 10
    Tampilan Finder macOS
    Tampilan Finder macOS

    Virtual Desktop vs Mission Control

    Tampilan Virtual Desktop Windows 10
    Tampilan Virtual Desktop Windows 10
    Tampilan Mission Control macOS
    Tampilan Mission Control macOS

    Edge vs Safari

    Tampilan Edge di Windows 10
    Tampilan Edge di Windows 10
    Tampilan Safari di macOS
    Tampilan Safari di macOS

    Calculator vs Calculator

    Tampilan Calculator di Windows 10
    Tampilan Calculator di Windows 10
    Tampilan Calculator di macOS
    Tampilan Calculator di macOS

    Photos vs Photos

    Tampilan Photos di Windows 10
    Tampilan Photos di Windows 10
    Tampilan Photos di macOS
    Tampilan Photos di macOS

    Mail vs Mail

    Tampilan Mail di Windows 10
    Tampilan Mail di Windows 10
    Tampilan Mail di macOS
    Tampilan Mail di macOS

    Cortana vs Siri

    Tampilan Cortana di Windows 10
    Tampilan Cortana di Windows 10
    Tampilan Siri di macOS
    Tampilan Siri di macOS

    Microsoft Store vs App Store

    Tampilan Microsoft Store
    Tampilan Microsoft Store
    Tampilan App Store
    Tampilan App Store

    Contacts vs People

    Tampilan People di Windows 10
    Tampilan People di Windows 10
    Tampilan Contacs di macOS
    Tampilan Contacs di macOS

    Calendar vs Calendar

    Tampilan Calendar di Windows 10
    Tampilan Calendar di Windows 10
    Tampilan Calendar di macOS
    Tampilan Calendar di macOS

    Maps vs Maps

    Tampilan Maps di Windows 10
    Tampilan Maps di Windows 10
    Tampilan Maps di macOS
    Tampilan Maps di macOS

    Nah itulah dia beberapa perbandingan tampilan Windows 10 vs macOS — di versi terbarunya saat ini. Menurut kamu, mana yang tampilannya lebih bagus dan modern? Apakah tampilan Windows 10 atau macOS ?
    Sumber : https://winpoin.com/tampilan-windows-10-fluent-design-vs-macos-bagus-mana/
    Continue Reading
    3 Cara Membuka Mode InPrivate di Microsoft EdgeDi Firefox ada mode bernama Private Browsing, sedangkan di Chrome mode tersebut bernama Incognito dan di Microsoft Edge bernama InPrivate. Ketiga mode tersebut memiliki kegunaan yang sama yakni sama-sama tidak akan menyimpan history browsing, cookie, cache, password, dsb ketika kamu menjelajah di internet menggunakan mode tersebut di masing-masing browser.
    Nah, pada kesempatan kali ini, WinPoin akan memberikan tutorial mengenai bagaimana cara untuk mengaktifkan mode InPrivate di Microsoft Edge. Untuk kamu yang belum tahu caranya, silakan ikuti langkah-langkah berikut ini:

    Cara 1

    • Buka Microsoft Edge pada Windows 10 milikmu
    • Setelah itu gunakan kombinasi (shortcut) keyboard Ctrl + Shift + P
    cara mengaktifkan inprivate browsing di edge (3)
    • Secara otomatis kamu akan langsung dialihkan ke mode InPrivate di Microsoft Edge.
    • Done

    Cara 2

    • Buka Microsoft Edge pada Windows 10 milikmu
    • Setelah itu, pilihlah opsi more (titik tiga pada bagian kanan atas)
    cara mengaktifkan inprivate browsing di edge (2)
    • Selanjutnya kamu tinggal klik opsi New InPrivate window
    • Secara otomatis kamu akan langsung dialihkan ke mode InPrivate di Microsoft Edge.
    • Done

    Cara 3

    • Pada taskbar, klik kanan shortcut Microsoft Edge
    3 Cara Membuka Mode InPrivate di Microsoft Edge
    • Setelah itu akan muncul beberapa opsi, pilihlah opsi New InPrivate window
    • Secara otomatis kamu akan langsung dialihkan ke mode InPrivate di Microsoft Edge.
    • Done
    Nah, itulah gaes beberapa cara untuk dapat menggunakan mode InPrivate di Microsoft Edge pada Windows 10. Bagaimana, sangat mudah bukan caranya?
    Semoga bermanfaat. :)
    Sumber : https://winpoin.com/3-cara-membuka-mode-inprivate-di-microsoft-edge/
    Continue Reading
    Pelajaran Berharga dari Kasus Pembobolan Data Uber

    Data-data Uber dan Yahoo sama-sama pernah jadi sasaran peretas, tapi kedua perusahaan punya cara berbeda menghadapinya.
    tirto.id - Kasus peretasan kembali menimpa jagat perusahaan teknologi. Setelah Yahoo mengalami skandal pembobolan pada September tahun lalu, kini perusahaan teknologi ride sharing, Uber mengalami kejadian serupa.

    Dalam laporan Bloomberg, Uber terkena serangan peretasan terhadap data pribadi 50 juta pengguna dan 7 juta pengemudi Uber. Data-data itu mencakup nama, nomor telepon, email, serta 600 ribu nomor SIM pengemudi mereka, raib digondol peretas.
    CEO Uber Dara Khosrowshahi membenarkan kesialan yang menimpa perusahaannya.

    “Informasi pribadi 57 juta pengguna Uber di seluruh dunia, termasuk data pengemudi. Informasi ini meliputi nama, alamat email dan nomor telepon seluler [...] Para ahli forensik eksternal yang kami libatkan untuk menelusuri insiden ini tidak melihat adanya data mengenai lokasi perjalanan, nomor kartu kredit, nomor akun bank, nomor jaminan sosial atau tanggal lahir yang terunduh,” kata Khosrowshahi dalam surat keterangan pers yang diterima Tirto.

    “Meskipun kami belum melihat adanya bukti akan penipuan dan penyalahgunaan terkait insiden ini, kami tetap melakukan pemantauan terhadap akun yang terkena dampak dan memberikan proteksi ekstra terhadap akun-akun tersebut,” katanya.

    Buntut dari kabar peretasan ini, Jaksa Agung New York, Eric Schneiderman, langsung memulai upaya penyelidikan. Aksi peretasan yang menimpa Uber itu tak terjadi dalam beberapa hari ini. 

    Peretasan yang menggondol 57 juta data pribadi itu, terjadi hampir 13 bulan atau sejak Oktober 2016. Ini artinya, peretasan yang menimpa Uber sudah terjadi sebelum kepemimpinan Khosrowshahi, saat itu Uber dipimpin oleh Travis Kalanick. Berdasarkan laporan Bloomberg, Kalanick mengetahui kasus yang menimpa perusahaannya.

    Sayangnya, alih-alih segera melapor pada pihak berwajib, serta memberitahu pengguna dan pengemudinya, Uber memilih untuk membayar tebusan senilai $100 ribu pada peretas. Uang yang bila dirupiahkan kurang lebih Rp1,3 miliar agar membungkam peretas menghapus data yang berhasil mereka curi dan tidak membocorkan informasi apapun tentang aksi mereka. Saat itu, Uber lebih memilih menutup rapat-rapat insiden itu.

    Dalam rilis yang diterima, Khosrowshahi, CEO Uber pengganti Kalanick bertanya-tanya tentang pilihan kebijakan di masa Kalanick. “Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa kami baru membahas ini sekarang, setelah setahun berlalu. Saya memiliki pertanyaan yang sama, dan karena itu saya segera minta diadakan investigasi yang seksama mengenai apa yang terjadi dan bagaimana kami menanganinya,” kata Khosrowshahi.

    Pilihan Uber untuk menutup mulut tragedi yang menimpanya, sangat mungkin berbuntut panjang. Ini terutama terkait para pengguna maupun pengemudi yang identitasnya bocor dan tak segera mendapatkan pengamanan hukum oleh aparat.

    "Jika Uber tahu (aksi peretasan yang menimpanya) dan (memilih) menutupi dan tidak memberi tahu FTC (Federal Trade Commission), itu menjadi pintu pada masalah berikutnya, (pilihan ini) bisa berujung masalah pidana," ucap Williams McGeveran, profesor hukum privasi data University of Minnesota Law School, memberikan keterangannya pada Wired. 

    “Jika semua ini benar (memilih membayar peretas daripada melaporkan), itu bisa diartikan sebagai pernyataan palsu terhadap penyidik. Kamu (seharusnya) dilarang berbohong pada penyidik dalam proses menyelesaikan permasalahan,” tambahnya.

    Peretasan yang dialami perusahaan sekelas Uber, tentu mengundang tanya. Namun, Khosrowshahi menjelaskan bahwa peretasan yang terjadi hampir setahun lampau dilakukan oleh dua orang penjahat siber yang menyerang sistem pihak ketiga yang dipakai Uber. 

    “Kami menemukan adanya dua oknum dari luar perusahaan yang secara ilegal mengakses data pengguna kami yang tersimpan di layanan berbasis cloud dari perusahaan pihak ketiga yang kami gunakan. Insiden ini tidak berdampak pada sistem atau infrastruktur dari perusahaan kami,” katanya.

    Dalam laporan yang diunggah Bloomberg, dua peretas itu sukses membobol data pengguna maupun pengemudi Uber selepas mereka sukses merasuk pada GitHub, layanan repositori source code online, yang digunakan para programer Uber. Dari GitHub itu, dua orang peretas sukses memperoleh data untuk masuk ke Amazon Web Service (AWS), layanan cloud computing, yang Uber gunakan menyimpan data para penggunanya. Selepas membobol, para peretas dilaporkan meminta tebusan yang kemudian dipenuhi oleh Uber.

    Meskipun mengundang kontroversi, penempatan informasi penting pada GitHub, merupakan hal yang lumrah dilakukan programer. Ini dilakukan untuk memudahkan mereka dalam mengembangkan suatu sistem. Sayangnya, tindakan demikian sangat berisiko terutama bagi perusahaan sekelas Uber.

    “(Praktik menyimpan informasi rahasia suatu sistem) sangat biasa dilakukan di GitHub. (Sayangnya) ini bukanlah lingkungan yang ramah,” ucap Jeremiah Grossman, peneliti keamanan web SentinelOne pada Wired.

    Pelajaran Berharga dari Kasus Pembobolan Data Uber
    Bukan yang Pertama

    Merujuk sejarahnya, bukan kali ini saja Uber mengalami musibah peretasan. Pada Mei 2014 lalu, perusahaan itu pun terkena masalah yang sama. Merujuk pemberitaan Forbes, kala itu peretas sukses mencuri 50 ribu data pengemudi Uber yang berdomisili di Amerika Serikat. Pencurian, pada Mei itu hanya mencakup nama serta nomor SIM pengemudi Uber, tak termasuk data pengguna Uber. 

    Sayangnya, jumlah 50 ribu data pengemudi itu kemudian dianulir oleh FTC yang melakukan penyelidikan pada Agustus 2017. FTC mengatakan bahwa Uber kebobolan 100 ribu data pengemudinya. Meningkat dua kali lipat dibandingkan klaim pertama Uber.

    "Peretas mengakses satu file yang berisi informasi pribadi yang dimiliki oleh pengemudi Uber, termasuk lebih dari 100.000 nama dan nomor SIM yang tidak dienkripsi, 215 nama dan rekening bank dan rute domestik pengemudi yang tidak terenkripsi, serta 84 nama dan nomor jaminan sosial yang tidak terenkripsi," kata FTC.

    Mirip seperti kasus yang baru terungkap publik pekan ini, pembobolan yang terjadi di 2014 itu baru diinformasikan pada khalayak pada Februari 2015 atau selepas 9 bulan kejadian terjadi.

    Selain kesamaan soal ditutup-tutupinya kasus peretasan, teknik bagaimana peretas memperoleh data pengemudi Uber pun sama. Pada kejadian di 2014 lalu itu peretas sukses membobol data pengemudi Uber selepas sukses merasuk pada layanan AWS yang dipakai Uber. Ini terjadi selepas terlebih dahulu mereka memperoleh informasi AWS di akun GitHub milik Uber.

    Tentu, aksi pencurian data pengguna di dunia teknologi tak hanya dialami Uber. Rekor jumlah data yang dicuri, sampai saat ini, masih dipegang oleh Yahoo. Pada Desember 2016 lalu terungkap bahwa 1 miliar data pengguna Yahoo, seperti nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, dan juga password, sukses dicuri peretas.

    Sebelumnya, pada September 2016, Yahoo mengalami nasib serupa. Pada saat itu, Yahoo kebobolan 500 juta data penggunanya.

    Namun, berbeda dengan tindakan Uber, Yahoo saat mengetahui data penggunanya dibobol peretas, mereka mengirimkan peringatan pada setiap pengguna Yahoo yang terdampak. Yahoo pun menggandeng pihak berwajib AS menanggulangi dan mencari tahu penyebab data pengguna mereka bobol. 

    Keterbukaan perusahaan teknologi bila mengalami masalah seperti pembobolan justru lebih baik daripada mencoba menutupinya. Persoalan peretasan tentu bukan hanya soal citra buruk perusahaan tapi nasib keamanan data para pengguna. 
    Sumber : https://tirto.id/pelajaran-berharga-dari-kasus-pembobolan-data-uber-cAtq
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    Jerri Josua Student

    Eat. Coding. Travel. Sleep.

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • instagram

    Labels

    AI All About JKT48 Android Aneh Arsitektur Audit Teknologi Sistem Informasi Data Mining Flower Hewan Ilmu Budaya Dasar Inovasi SI & New Technology Kesehatan Keyboard Komputer Misteri Network Olahraga Peng. Animasi & Desain Grafis Pengetahuan Teknologi Sistem Cerdas Riddle Sejarah Sosial Dasar. Tech News Teka-Teki Wisata

    recent posts

    Blog Archive

    • Mei 2020 (1)
    • Januari 2020 (1)
    • Desember 2019 (1)
    • November 2019 (1)
    • Juli 2019 (1)
    • April 2019 (2)
    • Maret 2019 (2)
    • Desember 2018 (1)
    • November 2018 (2)
    • Oktober 2018 (1)
    • Juni 2018 (1)
    • Desember 2017 (7)
    • November 2017 (18)
    • Oktober 2017 (5)
    • Mei 2017 (1)
    • April 2017 (1)
    • Maret 2017 (1)
    • November 2016 (4)
    • Oktober 2016 (10)
    • September 2016 (1)
    • Oktober 2013 (3)
    • Agustus 2013 (6)
    Facebook Twitter instagram

    Retouch by DEINJER | Created with by BeautyTemplates

    Back to top